The Reason

Ummi harus segera pergi, sementara Shafiyyah masih tertidur pulas. Jarum jam terus berputar. Khawatir terlambat, akhirnya ummi hanya pergi bersama Umar. “Shafiyyah di rumah dulu ya, sama abi.” bisik ummi.

Sesaat sebelum memejamkan mata di malam harinya…

Ummi: Adek tadi nyariin ummi gak?

S: Iya

Ummi: Adek kangen ummi gak tadi?

S: Iya. Kangen tuh apa, ummi?

Ummi: Kangen tuh pengen ketemu. Adek pengen ketemu ummi gak tadi?

S: Iya.

Ummi: Adek tadi nangis?

S: Enggak. Tapi dek opi sedih.

Ummi: Oh? Sedih kenapa?

S: Soalnya adek opi pengen pergi sama ummi, tapi ummi gak mau nunggu adek opi…

It really makes ummi feels so bad. Tears comes down her face in the dark and silence. Ummi hugs Shafiyyah tightly.

That’s the reason. That’s the reason why ummi doesn’t want to go to work. She just doesn’t want to leave her kids for a long time. She doesn’t want to make her kids feel sad…

Balada Sabun

Ibuk lagi ada di rumah sejak 2 hari yang lalu. Respon pertamanya ketika keluar dari kamar mandi kami: “Nis, aku kok rak seneng sabunmu ya, aku orak cocok mbek ambune!”.

Ya, aku dan ibuk terbiasa berkomunikasi dengan Bahasa Jawa Ngoko atau Bahasa Indonesia.

Kemudian pagi ini, tiba-tiba rasa penasaranku membuncah setelah selesai berbisnis di kamar mandi:

Aku: Lha, ibuk kit wingi nganggo sabun opo?
Ibuk: Yo sabun Lifebuoy kuwi
Aku: Sing cilik?
Ibuk: Iyo
Aku: Sing nang ndhuwur closet?
Ibuk: Iyo
Aku: *mulai membelalakkan mata* Cairane warnane opo?
Ibuk: Abang, eh…
Aku: Biru? *makin membelalakkan mata*
Ibuk: Ho’oh

Sontak aku tertawa terbahak-bahak. Adikku yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan kami ikut heran.

Rama: Emang isine opo to, mbak?
Aku: *tertawa makin terbahak-bahak*
Ibuk: Opo to, nis?
Aku: *menahan tawa* RINSO! Ahahahahhhaaaaaa…

Jadi, selama di rumahku, ibuk mandi pake detergen! Ahahahahhhaaa…

This is what i missed from my mom: the laughter. Yes, we fight much, but we laugh more…

Gara-Gara Android

“Semenjak pakai android, hidup terasa lebih mudah.” – Ibu dari dua orang anak, 25 tahun.

Halah. Lebay. Ahahahahhhaaa…

But android really makes my days different and more fun. Maklum, sebelumnya pakai handset Blackberry yang setengah mati deh mati gayanya. Loadang-loading mulu sampe baterenya soak sendiri. Ups.

Having accounts of gmail, wordpress, twitter, pinterest, and (finally) instagram in my hand is feeling sooo good. Apalagi didukung dengan kamera yang lebih bagus dari handset sebelumnya. Browsing sana-sini jadi terasa lebih mudah. Cari ide crafting & resep masakan semudah geser-geser jempol. Blogwalking tak lagi harus buka-buka laptop, yang mana tiap buka laptop selalu berakhir (atau berawal?) dengan menonton film kartun kesukaan Umar & Shafiyyah. Dan akhirnya punya akun instagram itu melayang-layang rasanya, karena selalu suka dengan ilustrasi visual berupa gambar & foto. Alhamdulillaaah…

Dari awal punya pinterest, yang mana dulu selalu buka via laptop atau terpaksa pake browser handset, selalu suka sama kategori Do-It-Yourself & Crafting. Makanya punya board Handmade Project & Kids Project. Awalnya cuma muter-muter aja pin sana pin sini, tapi setelah dilengkapi dengan instagram, mulai follow juga beberapa akun yang suka crafting dan bikin sensory play buat anak. Setelah wordpress ada di genggaman tangan pun mulai follow juga beberapa blog yang suka posting kegiatan fun education buat anak.

Kegiatan follow sana follow sini, pin sana pin sini, browsing sana browsing sini ini akhirnya membuahkan hasil juga. Beberapa hari terakhir jadi suka buat aktivitas yang edukatif buat Umar & Shafiyyah. Dan inilah hasilnya…

image

image

image

image

Walaupun belum se-wah bikinan mama-mama yang super kreatif itu, dan Umar pun belum terlalu antusias dengan kegiatan crafting ini, tapi paling gak anak-anak jadi ada kegiatan yang edukatif dan non-gadget tiap hari.

Mudah-mudahan efek baik dari kemudahan android ini terus berlanjut ya…

PS: Keberadaan android ini juga semakin memudahkan umminya Umar & Shafiyyah ini buat me-time sejenak. And I am really enjoying this fun! 🙂

A Midnight Thought

Tengah malam begini, nyaris belum istirahat mata ini. Baru saja kantuk itu datang, Shafiyyah yang sedari tadi memang tak nyenyak tidurnya, tiba-tiba terbangun lalu turun dari kasur, dan … creeet! Suara itu berasal dari … pampers Shafiyyah! Oo-ow… Shafiyyah diare di saat gelap gulita begini. Allahu akbar!

Baru saja tadi sore aku tahu kalau Umar kena infeksi telinga karena pilek & buang ingus terlalu keras, malam ini sudah harus menerima kenyataan selanjutnya bahwa adiknya pun sakit dan butuh perhatian ekstra.

Hhh… Alhamdulillah ‘ala kulli hal…

Oke, I just want to share my thought in this very late night. Now, it’s time to give my body, my mind, my eyes a rest. Because tomorrow will be an another-hard-day.

Syafakumullah, kiddos…

Quote

Peluh

“Manusia dihargai bukan dari apa yang dia miliki, tapi yang dia berikan. Bukankah matahari memiliki api, tapi ia memenuhi bumi dengan cahayanya.” – Ustadz Jafar Salih

Well, ketika tak ada yang menghargai kerja kerasmu, maka hargailah, walau oleh dirimu sendiri. Bukan untuk berbangga diri dan menepuk dada, nemun karena kau layak mendapatkannya…

Jika Harus Menangis

Berawal dari curhat colongan dengan seorang kawan – yang juga sarjana psikologi – tentang me-time, akhirnya saya tahu bahwa setiap orang butuh waktu untuk dirinya sendiri. Ya, dia dan dirinya sendiri, menyendiri, melakukan hal yang menyenangkan untuk dirinya sendiri.

Konon katanya, setiap orang juga butuh penyaluran emosi (salem). Emosi adalah sebuah energi. Ingat teori kekekalan energi? Energi tidak dapat hilang, ia hanya bisa diubah ke bentuk energi yang lain. Bayangkan jika saluran emosi yg berisi energi ini tersumbat dan membentuk tekanan yg kuat, ia bisa meledak suatu saat. Nah, agar tak tersumbat, penyaluran emosi ini bisa juga dipenuhi dengan cara me-time.

Banyak cara yang bisa dilakukan: menulis, tidur, menyendiri, menyetir, berteriak, bahkan ada yang menyalurkan energi emosi itu dengan berberes rumah lho. Wow, salut deh sama cara yang terakhir ini. Sayangnya, bukan saya. Ahahahhaaa…

Menangis juga bisa menjadi bentuk penyaluran emosi.

Seorang ahli kelainan tidur pernah ditanya, “Mengapa setelah menangis jadi terasa mengantuk dan mudah tidur?”. Ia menjawab, “Mungkin merasa lega? :)”. Ya, bukankah setelah menangis itu sangat lega rasanya? Itulah tujuan penyaluran emosi, agar energi itu tak lagi tersumbat, agar ia tak meledak. Kalaupun harus meledak, minimal ledakannya masih terkendali.

Hei, bukankah saluran air mata yang tersumbat juga tak baik untuk kesehatan?

Jadi, jangan lagi takut untuk menangis.

Nak, Ummi Boleh ke Kantor?

Iseng-iseng kulontarkan sebuah pertanyaan kepada kedua anakku: Mas, Dek, Ummi boleh ke kantor gak?

Bukan, aku sama sekali tak berencana untuk bekerja dan betul-betul ke kantor. Entah, hanya iseng saja, ingin tahu, sebesar apa kebutuhan mereka akan kehadiranku di samping mereka. Tak pernah tersirat sedikit pun pemikiran untuk aku bekerja di kantor. Bahkan, sekedar ingin pun tak pernah, alhamdulillah.

Ummi: Mas, Dek, Ummi boleh ke kantor gak? Nanti mas umar sama dek opi sama embak di rumah.
Umar: Embak siapa?
Ummi: Ya nanti cari embak baru. Nanti mas umar makannya sam embak, mandinya sama embak, sekolahnya sama embak, ceboknya sama embak, bobonya sama embak, gitu. Mau gak?
Umar: Enggak mau.
Ummi: Kenapa?
Umar: Enggak tau…
Ummi: … *palm face*
Ummi: Adek gimana? Boleh gak Ummi ke kantor? Nanti bobonya sama embak, dipukpuk, gak nen…
Shofi: Gak mau…

Walaupun jawaban mereka tak terlalu memuaskan, tapi minimal aku tahu, mereka butuh aku di samping mereka, mengiringi keseharian mereka, menemani mereka tumbuh…