Gara-Gara Android

“Semenjak pakai android, hidup terasa lebih mudah.” – Ibu dari dua orang anak, 25 tahun.

Halah. Lebay. Ahahahahhhaaa…

But android really makes my days different and more fun. Maklum, sebelumnya pakai handset Blackberry yang setengah mati deh mati gayanya. Loadang-loading mulu sampe baterenya soak sendiri. Ups.

Having accounts of gmail, wordpress, twitter, pinterest, and (finally) instagram in my hand is feeling sooo good. Apalagi didukung dengan kamera yang lebih bagus dari handset sebelumnya. Browsing sana-sini jadi terasa lebih mudah. Cari ide crafting & resep masakan semudah geser-geser jempol. Blogwalking tak lagi harus buka-buka laptop, yang mana tiap buka laptop selalu berakhir (atau berawal?) dengan menonton film kartun kesukaan Umar & Shafiyyah. Dan akhirnya punya akun instagram itu melayang-layang rasanya, karena selalu suka dengan ilustrasi visual berupa gambar & foto. Alhamdulillaaah…

Dari awal punya pinterest, yang mana dulu selalu buka via laptop atau terpaksa pake browser handset, selalu suka sama kategori Do-It-Yourself & Crafting. Makanya punya board Handmade Project & Kids Project. Awalnya cuma muter-muter aja pin sana pin sini, tapi setelah dilengkapi dengan instagram, mulai follow juga beberapa akun yang suka crafting dan bikin sensory play buat anak. Setelah wordpress ada di genggaman tangan pun mulai follow juga beberapa blog yang suka posting kegiatan fun education buat anak.

Kegiatan follow sana follow sini, pin sana pin sini, browsing sana browsing sini ini akhirnya membuahkan hasil juga. Beberapa hari terakhir jadi suka buat aktivitas yang edukatif buat Umar & Shafiyyah. Dan inilah hasilnya…

image

image

image

image

Walaupun belum se-wah bikinan mama-mama yang super kreatif itu, dan Umar pun belum terlalu antusias dengan kegiatan crafting ini, tapi paling gak anak-anak jadi ada kegiatan yang edukatif dan non-gadget tiap hari.

Mudah-mudahan efek baik dari kemudahan android ini terus berlanjut ya…

PS: Keberadaan android ini juga semakin memudahkan umminya Umar & Shafiyyah ini buat me-time sejenak. And I am really enjoying this fun! 🙂

Nak, Ummi Boleh ke Kantor?

Iseng-iseng kulontarkan sebuah pertanyaan kepada kedua anakku: Mas, Dek, Ummi boleh ke kantor gak?

Bukan, aku sama sekali tak berencana untuk bekerja dan betul-betul ke kantor. Entah, hanya iseng saja, ingin tahu, sebesar apa kebutuhan mereka akan kehadiranku di samping mereka. Tak pernah tersirat sedikit pun pemikiran untuk aku bekerja di kantor. Bahkan, sekedar ingin pun tak pernah, alhamdulillah.

Ummi: Mas, Dek, Ummi boleh ke kantor gak? Nanti mas umar sama dek opi sama embak di rumah.
Umar: Embak siapa?
Ummi: Ya nanti cari embak baru. Nanti mas umar makannya sam embak, mandinya sama embak, sekolahnya sama embak, ceboknya sama embak, bobonya sama embak, gitu. Mau gak?
Umar: Enggak mau.
Ummi: Kenapa?
Umar: Enggak tau…
Ummi: … *palm face*
Ummi: Adek gimana? Boleh gak Ummi ke kantor? Nanti bobonya sama embak, dipukpuk, gak nen…
Shofi: Gak mau…

Walaupun jawaban mereka tak terlalu memuaskan, tapi minimal aku tahu, mereka butuh aku di samping mereka, mengiringi keseharian mereka, menemani mereka tumbuh…

Kamu Makin Besar, Nak

Bahagia itu sederhana,
Melihatmu masuk pintu kelas dengan ceria dengan tas mungil yg menggantung di punggungmu.

Bahagia itu sederhana,
Menjemputmu usai sekolah dan mendapati kotak makananmu kosong. Jika kau habiskan semuanya, berarti kau makan banyak hari ini. Kalau pun kawanmu yang habiskan, kau telah belajar berbagi hari ini.

Bahagia itu sederhana,
Tiba di rumah bersamamu dan mendapatimu membuka sepatu sendiri, melepaskan kaos kakimu sendiri, lalu meletakkannya di rak sepatu sendiri.

Bahagia itu sederhana,
Melihat kau tumbuh semakin besar, Nak.

Saat Hujan

Siang itu gerimis mulai turun di Kota Depok. Petrichor, salah satu aroma favoritku, mulai menyeruak menembus dinding kamar, membangunkanku yang saat itu sedang menemani anak-anak tidur.

Tapi, bunyi gerimis yang seharusnya menjadi white noise pembuat nyenyak tidurnya anak-anak, justru tiba-tiba membangunkan Umar yang tadinya masih terlelap. Belum pula genap nyawanya, matanya sudah menganga lebar, mulutnya turut terbuka yang kemudian diikuti sebuah kalimat,

“Ummi, gerimis! Jemurannya udah dimasukkin belum?”

Sontak aku ingin tertawa mendengar kalimat pertama yang keluar dari lisannya sebangun tidur itu, tapi kutahan tawaku sekuatnya, sambil menjawab, “Sudah, Mas…”

Lalu ia pun mengatupkan lagi kedua matanya, dan kembali masuk ke dalam mimpi indahnya.

Ya ampun, Umar, kamu masih terlalu kecil buat mikir jemuran, Nak… 😆

Tentang Hamil

Bukan. Saya bukan lagi hamil. Hanya ingin bercerita sedikit tentang hamil.

ImageSelalu ada bahagia yg mencuat di dalam hati ketika mendengar kabar kehamilan seseorang. Dan saat ini banyak yang sedang hamil di lingkaran kehidupan saya. Seorang sahabat, seorang kawan lama, seorang saudara ipar, dan yang lainnya. Tentu kabar kehamilan itu disampaikan dengan penuh suka cita, sorak sorai, dan cerah ceria. Karena HAMIL adalah salah satu hal yang selalu diimpikan oleh (hampir) semua wanita, dan bisa jadi merupakan hal yang telah lama dinanti.

Tapi nyatanya, tak semua wanita gembira dengan kabar kehamilan dirinya. Kenyataannya, tak semua wanita ingin hamil, meskipun ia telah resmi menikah. Sedih ya? 😦

Kalau saya? Ya tentu bahagia ketika mengetahui ada dua strip yang ditunjukkan oleh testpack. Oke, kisah bahagia tentang kehamilan saya itu sudah berlalu lama, 2 tahun dan 3,5 tahun yang lalu.

Dan buat saya, hamil itu menyenangkan, salah satu hal terindah dalam hidup saya, sembilan bulan (dikali dua) yang penuh kenangan dalam perjalanan usia saya. Alhamdulillah…

Agak aneh memang, tapi saya memang kangen masa-masa kehamilan itu. Alhamdulillah, dua kali Allah menitipkan janin dalam rahim saya, tak pernah ada kendala yang berarti, semua berjalan mulus, bahkan cenderung mudah untuk saya pribadi. Keduanya sehat, tak pernah ngidam yang aneh-aneh, dan tak pernah merepotkan umminya selama ada di dalam perut.

Kehamilan pertama sangat berkesan, karena saya berjuang mengerjakan Tugas Akhir dan akhirnya diwisuda bersama Umar di dalam perut. Usia kehamilan saya sudah menginjak 5 bulan ketika upacara wisuda. Kehamilan yang kedua juga tak kalah berkesan, karena saya harus melalui perjalanan darat naik mobil ke Cilacap di saat usia kehamilan masuk 2 bulan, sementara usia Umar masih 10 bulan, dan masih menyusui! What a trip!

Ah, betapa ngangeninnya masa-masa hamil itu…

Tapi, sekangen-kangennya saya, untuk kehamilan ketiga? Ehehheee… Nanti dulu… :p